2021-01-24

Sharing Session #11 Penyuluh Pertanian dengan Topik “Intermediari Inovasi dalam Penyuluhan Pertanian”

BBP2TP
...

Kembali Kelompok Penyuluh BBP2TP menyelenggarakan seri Sharing Session #11 secara virtual pada Kamis (25/03) dengan tema “Intermediari Inovasi dalam Penyuluhan Pertanian”. Acara yang dihadiri oleh 280 peserta terdiri dari para penyuluh berasal dari BPTP seluruh Indonesia dan Dinas Pertanian berbagai kabupaten/kota di Indonesia.

SS kali ini memghadirkan narasumber antara lain Iman Hanafi, SP (Penyuluh Pertanian Kota Bogor), Enti Sinarwati, SP, M.Sc (Peneliti BBP2TP), dan Diat Sujatman, S.ST (Penyuluh Pertanian Kab. Sukabumi). Koordinator KSPHP BBP2TP, Dr. Sigid Handoko yang mewakili plt Kepala BBP2TP berkesempatan membuka acara.

Dalam arahannya Sigid mengulas proses diseminasi inovasi teknologi yang dikelola Balitbangtan melalui berbagai tahapan dimulai dari hasil penelitian pada Balai Komoditas sampai dengan uji multi lokasi dan pengkajian yang dilaksanakan di BPTP hingga tingkat kesiapterapan teknologi mencapai level ke-7 untuk selanjutnya dapat diterapkan oleh masyarakat pertanian kita. Lebih lanjut disaampaikan juga kebutuhan peran komunikasi dalam proses diseminasi dan adopsi teknologi, sehinga Sigid menekankan peran intermediari inovasi ini sangat penting untuk membingkai proses adopsi hingga menjadi proses komunikasi yang efektif.

Image

Enti Sirnawati, narasumber pertama mengulas sebuah pertanyaan besar mengapa teknologi Balitbangtan itu tidak mudah diadopsi petani. Enti menekankan peran interdimediari sebagai fungsi yang bisa dimainkan oleh penyuluh pertanian. Kata kuncinya adalah jaringan, mata rantai sistem inovasi pertanian, serta open innovation dari stakeholder/user. Intermediari ini bisa lembaga/institusi, kelompok ataupun perseorangan.

Lebih lanjut Enti turut mengulas bentuk intermediari dapat berupa brokering/menjembatani antara user dan pemilik informasi. Penyuluh memiliki peran penting, mengkoneksikan sumber daya serta mampu menggali/menjembetani/ berbagai kebutuhan petani dan mengkoneksikannya melalui berbagai kolaborasi stakeholder terkait (pemilik informasi, swasta/off taker, lembaga swadaya, hingga lembaga permodalan dan pemasaran). Keberhasilan penyuluh itu bisa dievaluasi dari indikator seberapa mandirinya petani ketika pendampingan telah selesai. Partisipasi petani tentu sangat dibutuhkan dalam proses adopsi ini.

Image

Narasumber kedua, adalah penyuluh BPP Sukabumi Diat Suratman, yang berbagi kesuksesan mendampingi petani mengembangan agroeduwisata di wilayah setempat. Diat menggarisbawahi pentingnya mengidentifikasi potensi wilayah dalam mengakselerasi agroeduwisata.

Diat menyemangati kawan-kawan peserta penyuluh untuk tidak jadi penyuluh standar, dan jangan kendur melayani petani. Dengan semangat dan jargon ini yang mampu mengantarkan Diat menjadi penyuluh teladan nasional 2013

Narasumber ketiga SS#11 menghadirkan Imam Hanafi, penyuluh Kota Bogor yang juga kolaborator BBP2TP untuk turun berbagi pengalaman sebagai penyuluh pendamping petani kawasan agroeduwisata padi organik Desa Mulyaharja, Kota Bogor. Melalui perjalanan panjang sejak 2015, di tahun 2020 Mulyaharja mulai sukses menarik minat banyak pihak dan pengunjung untuk datang ke lokasi pengembangan padi organik tersebut melalui pendekatan agroeduwisata. Imam Hanafi menekankan peran inisiator, fasilitator hingga kolaborator. Penyuluh diulas Imam sebagai manajernya petani. Fungsi meyakinkan stakeholder pengambil kebijakan juga menjadi fungsi yang amat penting bagi pengembangan agroeduwisata hingga investasi bisa mengalir ke Desa Mulyaharja. (/enw)

Sub Sektor : Lain-Lain
Komoditas : Lain-Lain
Teknologi yang Digunakan :
http://bbp2tp.litbang.pertanian.go.id/index.php/berita/berita-aktual/1470-sharing-session-11-penyuluh-pertanian-dengan-topik-intermediari-inovasi-dalam-penyuluhan-pertanian